news

Perkuat Kesuksesan Bisnis Keluarga, ESQ Business School Gelar Generation Gap In Family Business

By November 22, 2022May 23rd, 2023No Comments

ESQ Business School Program Second Generation kembali menggelar webinar di hari Sabtu, 19 November 2022 yang bertajuk Generation Gap In Family Business. Webinar ini dibuka oleh Dr. (H.C) Ary Ginanjar Agustian dan sekaligus memberikan sambutan bahwa webinar ini akan memberikan solusi permasalahan yang sering dihadapai dalam bisnis keluarga.

Selain Founder ESQ Group, hadir juga beberapa narasumber yang akan membongkar segudang ilmunya soal bisnis keluarga yakni Dwitya Agustian (Ahli Peneliti Bisnis Keluarga) dan Ida S. Widayanti (Ahli Parenting).

“Hampir semua pengusaha atau bisnis yang punya usaha mengalami permasalahan yaitu bagaimana supaya anak-anak kita bisa melanjutkannya,” kata Ary.

Seperti riset akhir ini menyampaikan bahwa 70% anak-anak berpikir menjual usaha bapaknya. Sudut pandang yang berbeda tentang bisnis ditengarai menjadi penyebab utama.

“Maka diskusi kita hari ini melalui webinar dapat memberikan pencerahan bagaimana kita menyelaraskan pandangan tentang bisnis keluarga serta solusi-solusi dalam menghadapi permasalahan bisnis keluarga agar bisnis kita terus dapat memberikan manfaat bukan hanya bagi keluarga namun juga orang-orang disekitar kita,” jelasnya.

Dalam Webinar bertajuk “Generation Gap In Family Business” Dwitya Agustina President ESQ Business School mengungkapkan bahwa Dalam Bisnis keluarga banyak kendala yang dihadapi dan tidak ditemukan dalam model bisnis lainnya, yakni Kesenjangan generasi pertama dan generasi selanjutnya.

Menurutnya, kesenjangan ini berupa perhatian dalam sebuah bisnis keluarga karena terkadang adanya perbedaan budaya, kebiasaan, semangat, visi, dan lainnya. Padahal, salah satu kunci kesuksesan bisnis keluarga adalah jiwa leadership generasi pertama yang berhasil diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Survei tahun 2020 menunjukkan Jumlah model bisnis keluarga multigenerasi di wilayah Asia diperkirakan akan menurun. Riset ini mengungkap perubahan cara pandang dari generasi pertama pemilik bisnis di Indonesia – ketika lebih dari 70% pengusaha muda yang disurvei percaya di masa depan, akan semakin sedikit model bisnis keluarga, dan setengahnya memilih menjual bisnis yang mereka rintis, dibanding meneruskannya kepada generasi selanjutnya.

Menyadur dari Elin Waty (2019) Bisnis keluarga merupakan salah satu fondasi dari ekonomi di Asia namun tantangannya pengusaha yang berusia lebih muda memiliki pandangan yang berbeda terkait masa depan bisnis mereka. Kalangan ini cenderung membangun bisnis dengan cepat, menjualnya, dan kemudian mengambil pensiun dini, dibanding meneruskan bisnis ke anggota keluarga, seperti yang selama ini dilakukan.

“Pemimpin bisnis saat ini merasa bahwa anak-anak mereka tidak cukup berwirausaha dan tidak tertarik untuk memasukkan dalam waktu lama yang diperlukan untuk menjadi sukses. Orang tua khawatir tentang kemampuan anak-anak mereka untuk mengelola keluarga yang kompleks dan dinamika bisnis,” papar wanita yang akrab disapa Uwie itu.

Lebih lanjut, “Di sisi lain, calon penerus dibuat frustrasi oleh ketidakmampuan orang tua mereka untuk melepaskan kendali atau merangkul teknologi. Menurut survei, 80 persen calon penerus memiliki ide besar untuk mengembangkan bisnis. Yang lain berencana untuk memprofesionalkan bidang SDM dan keuangan atau mendatangkan eksekutif dari luar.”

“Meskipun telah mengambil pelatihan profesional atau gelar manajemen, banyak yang khawatir tentang mendapatkan rasa hormat dari rekan kerja dan pelanggan atau membangun otoritas saat mengambil tanggung jawab yang lebih tinggi,” sambungnya.

Uwie menerangkan, “Maka, Untuk mengatasi kesenjangan generasi ini, dapat mempertimbangkan hal-hal berikut yakni komunikasi, kredibilitas, bentrokan budaya.”

“Komunikasi itu menciptakan struktur formal untuk dialog dan penyelesaian perselisihan. Komunikasi bisa sangat menantang dalam bisnis keluarga karena kombinasi bisnis, uang, dan dinamika keluarga yang berpotensi berubah-ubah. Dewan keluarga atau pertemuan rutin dengan mediator profesional dapat membantu mengungkapkan masalah yang bermuatan emosional,” tuturnya.

Selain komunikasi, point kedua adalah Kredibilitas, “Sebagian besar penerus yang dipersiapkan dengan baik memperoleh pengalaman dan kredibilitas dengan bekerja di luar perusahaan keluarga. Ada banyak manfaat untuk melakukannya, termasuk membangun reputasi profesional hanya berdasarkan prestasi dan mendapatkan eksposur yang berharga untuk ide-ide baru.”

“Saya melihat banyak bisnis berjuang dengan kurangnya inovasi dan pengalaman dengan cara berpikir baru dapat membantu memicu perubahan penting,” ucap wanita berkerudung biru itu.

Sedangkan point terakhir adalah Bentrokan budaya, “Sebuah perilaku generasi telah menunjukkan (dan saya menggeneralisasi di sini) bahwa para boomer cenderung berfokus pada perolehan finansial dan material serta menghargai kerja keras. Namun, definisi mereka tentang kerja keras seringkali menekankan waktu bertatap muka dan kehadiran fisik di kantor.”

Sebaliknya, banyak karyawan generasi berikutnya, yang tumbuh dengan teknologi dan kemewahan yang lebih besar, menginginkan kebebasan untuk menyelesaikan pekerjaan di luar kantor dan menghargai fleksibilitas yang lebih besar dalam pekerjaan dan kehidupan. Perbedaan dalam gaya dan nilai kerja ini rentan terhadap konflik, dan penting untuk – sebagai sebuah keluarga – mengembangkan apresiasi terhadap berbagai cara untuk menyelesaikan sesuatu.

Oleh karenanya, sang Ahli Peneliti Bisnis Keluarga itu Menyampaikan Bagaimana cara Menjembatani Generasi Dalam Bisnis Keluarga di antaranya Kenalkan Generasi Muda pada Bisnis Sejak Usia Dini, Menempatkan Anggota Keluarga pada Posisi yang Sesuai, Hindari Nepotisme, Jangan Takut Diversifikasi.

Di sesi selanjutnya, Coach Ida S Widayanti yang merupakan Ahli Parenting dan Family Coach mengungkapkan terkait alasan sebuah keluarga yang merasa tidak bahagia. Ada beberapa penyebab menurutnya, salah satunya adalah adanya konflik cinta dan itikad baik pada anggota keluarga tidak dikomunikasikan dengan semestinya sehingga cinta dan itikad baik itu tidak dirasakan.

“Dibandingkan dengan profesi-profesi lain, orang tua adalah profesi yang paling tidak ada persiapan,” ucapnya.

Menurutnya, Kesenjangan yang terjadi antara orang tua dan anak bisa disebabkan tiga jenis Ego State yakni Parent Ego State, Child Ego State dan Adult Ego State.

“Ketika seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku sama seperti yag dilakukan oleh orangtuanya atau menunjukkan kepribadian yang sama dengan orangtuanya – ini yang disebut dengan Parent Ego State. Di saat kepribadian individu mencerminkan hal tersebut maka dia sedang berada dalam kondisi Parent Ego State.”

Dikatakan lebih lanjut oleh Ida, “Ketika seseorang berpikir, merasa, dan berperilaku seperti yang dilakukannya saat kecil dulu maka orang tersebut sedang berada dalam kondisi Child Ego State.”

“Sedangkan, ketika Semua cara berpikir, merasa, dan berperilaku yang ditunjukkan seseorang saat ini disebutkan sebagai kondisi Adult Ego State,” sambungnya.

Baginya, Model ego state di atas membuat kita bisa melihat hubungan antara perilaku, pengalaman dan perasaan. Sekarang Anda bisa melihat diri sendiri sedang berada dalam kondisi ego seperti apa berdasarkan tiga model ego state tersebut. Kondisi itu tidak konstan, karena perilaku, perasaan dan pengalaman manusia berubah setiap waktu.

“Keharmonisan hubungan orang tua dan anak bisa dibangun melalui perilaku komunikasi yang baik dan Coaching,” ujar Wanita lulusan Doktor di PTIQ itu.

Metode Coaching adalah sebuah teknik bertanya dan mendengarkan seseorang tanpa ada unsur menasehatinya. Tujuannya adalah untuk menggali potensi yang ada pada dirinya, perencanaan strategi, bahkan mempunyai perencanaan untuk menyelesaikan permasalahannya tanpa diberikan saran atau masukan dari orang lain.

Leave a Reply