Sistem “Cashless Society” Saat Ini Memunculkan Minat Generasi Millenials untuk Menjadi “Founder” dan CEO Sebuah “Startup”

Sistem “Cashless Society” Saat Ini Memunculkan Minat Generasi Millenials untuk Menjadi Founder dan CEO Sebuah Startup

Sistem “Cashless Society” Saat Ini Memunculkan Minat Generasi Millenials untuk Menjadi Founder dan CEO Sebuah “Startup”

ESQ Business School – Sekarang ini, kita bisa melihat cara bertransaksi masyarakat di Indonesia sudah berubah. Sebagian besar dari kita, pasti sudah tidak asing lagi mendengar atau bahkan menggunakan fasilitas e-Toll, GO-PAY, T-CASH, ataupun OVO, bukan? e-Toll, GO-PAY, T-CASH, dan OVO merupakan contoh empat dari metode transaksi cashless yang cukup populer dan sering digunakan dalam aktivitas keseharian masyarakat Indonesia.

Memang benar adanya, sekarang ini kita sudah memasuki era VUCA di mana saat ini dunia bisnis mengalami keadaan yang penuh gejolak (Volatillity), tidak pasti (Uncertainty), rumit (Complexity), dan serba tidak jelas (Ambiguity) yang ditandai dengan perkembangan yang begitu cepat di segala aspek yang berdampak pada disrupsi atau perubahan dalam dunia bisnis, contohnya metode transaksi yang sudah menjadi lebih mudah dengan adanya e-Toll, GO-PAY, T-CASH, dan OVO.

Jika menilik arti secara harfiah, cashless itu sendiri mempunyai makna tanpa uang tunai, yakni sebagai sistem yang di mana masyarakat tidak mempergunakan lagi uang tunai dalam bertransaksi tapi menggunakan kartu debit dan juga dompet virtual. Peralihan transaksi dari tunai ke non-tunai ini, juga merupakan campur tangan dari Bank Indonesia pada tahun 2009 lalu, yang kemudian di tahun 2014, Bank Indonesia mulai mencanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT)

Perusahaan-perusahaan startup seperti OVO, GOJEK, ataupun GRAB sangat diuntungkan dengan adanya cashless ini, di mana masyarakat melakukan pembayaran dengan menggunakan aplikasi OVO, GO-PAY, ataupun GRAB-PAY dari ketiga perushaan startup tersebut. Bahkan tak hanya di Indonesia, di negara Cina pun juga menggunakan aplikasi untuk sebagai metode pembayaran dalam menunjang aktivitas sehari-hari, yakni mereka menggunakan We-Chat dan Alipay untuk pembayaran non-tunai yang mereka gunakan saat makan siang, berbelanja, atau bahkan hanya sekadar berbelanja barang-barang di toko kelontong. Berbagai keuntungan dengan menggunakan aplikasi pembayaran non-tunai sangat banyak kita dapatkan, salah satunya adalah menggunakan aplikasi OVO yang sekarang sedang happening, yakni: mendapatkan poin yang berlipat d mana masyarakat dapat mengumpulkan poin dari berbelanja atau bertransaksi di merchant OVO. Poin tersebut nantinya dapat ditukar dengan berbagai diskon dan penawaran eksklusif, selain mendapatkan poin yang berlipat, pengguna OVO bisa juga mendapatkan promo yang memikat, merchant yang tersedia di berbagai tempat, pembayaran yang lebih cepat, serta dapat mengatur keuangan secara tepat.

Untuk itulah dewasa ini, selain jurusan Ilmu Komputer yang mulai banyak peminatnya, jurusan Sistem Informasi di dunia perkuliahan sudah mulai banyak juga dilirik oleh para generasi millennials. Jika dulu yang jurusan yang menjadi primadona adalah hanya berfokus pada jurusan Ekonomi, maka di era sekarang ini, generasi millennials lebih menyukai jurusan yang berkaitan dengan dunia internet dan juga digital seiring dengan munculnya berbagai perusahaan startup di Indonesia. Menurut pendapat dari Natali Ardianto selaku co-founder dari tiket.com yang dilansir dari website id.techinasia.com, alasan mengapa anak-anak muda mendirikan startup yaitu, “Ketika kita masih muda, kita masih memiliki energi eksplosif yang besar yang diperlukan agar dapat menghadapi tantangan dan tidak mudah menyerah. Dengan usia yang masih muda dan belum memiliki tanggungan istri bahkan keluarga, kita bisa keluar dari zona kenyamanan kita dan melakukan eksplorasi ke dalam hal-hal yang menantang dan memiliki resiko tinggi. “High risk, high gain” merupakan kutipan yang tepat, dan pemuda lah yang memiliki bekal karena mereka nothing to lose. Manfaatkanlah momen ini!”

ESQ Business School (EBS) adalah satu-satunya sekolah bisnis di Indonesia berbasis pendidikan karakter yang mendidik para mahasiswanya agar mampu mengelola bisnis secara profesional dan menguasai teknologi informasi sesuai perkembangan zaman. EBS menyediakan program studi S1 Sistem Informasi (Konsentrasi Digital Startup). Dua mahasiswa EBS dari angkatan ke-3 jurusan Sistem Informasi, juga ada yang sudah menjadi founder sebuah startup, yakni Iqbal Adinara Faruqi yang menjadi Founder dan CEO Replay Sport dan Diara Adnin yang menjadi founder Pandora’s Box.

Jangan lewatkan kesempatan untuk menimba ilmu di ESQ Business School dalam program studi Sistem Informasi di ESQ Business School. Tes gelombang 2 akan segera digelar pada hari Sabtu, 26 Januari 2019 yang bertempat di Kampus ESQ Business School, Menara 165, Cilandak, Jakarta Selatan. Mari wujudkan cita-citamu menjadi generasi emas yang unggul di masa depan bersama ESQ Business School yang mempunyai visi sebagai sekolah terbaik di Indonesia ke depannya.

*Sumber foto headline: http://wap.mi.baca.co.id dan Tribunnews.com

Rachmah Dewi

Author Rachmah Dewi

More posts by Rachmah Dewi