Naya

Prof. Ir. H. Surna Tjahja Djajadiningrat, MSc., Ph.D. atau dikenal juga dengan nama Prof. Naya dilahirkan di Jakarta pada tanggal 1 September 1944.  Prof Naya adalah Guru Besar Institut Teknologi Bandung di bidang Manajemen Lingkungan. Beliau memperoleh gelar doktor dalam bidang Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan dari University of Hawaii tahun 1982. Sebelum menamatkan pendidikan Magister di University of Hawaii tahun 1980, beliau memperoleh gelar sarjana Teknik Industri Institut Teknologi Bandung di tahun 1972.
Bersama DR.(HC) Ary Ginanjar Agustian, Prof Naya adalah Pendiri sekaligus Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen dan Ilmu Komputer ESQ yang pertama. Prof. Naya wafat di Jakarta pada tanggal 25 Agustus 2014 dan dimakamkan di Bandung.

Sebelum salah satu pendiri SBM ITB ini terpilih menjadi Dekan untuk periode 2004 – 2009, beliau merintis kariernya di Kementrian Negara Lingkungan Hidup (1988 – 1999). Bersamaan dengan kariernya di KLH, ia pun ditunjuk sebagai anggota MPR RI Utusan Ekologis (1993 – 1998). Pernah menjabat di Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai Kepala Badan Pendidikan & Pelatihan Energi dan Sumber Daya Mineral, dan Direktur Jenderal Pertambangan Umum (2000 – 2001) serta Staf Ahli Menteri Pertambangan dan Energi Bidang Lingkungan Pertambangan (1999 – 2000), beliau kemudian bergabung dengan Dewan Riset Nasional untuk periode 2000 – 2004.

Bergabung di Kelompok Keahlian Manajemen Insani dan Kewirausahaan, dengan kepakaran/spesialisasi di bidang Business Ethics & Social Responsibility, minat risetnya di bidang Business Leadership, Business Ethics & Social Responsibility, serta Business Economic. Selain mengajar, kini beliau bersama Dr. Kuntoro Mangkusubroto adalah merupakan Dewan Sekolah SBM ITB.

Kembali aktif di KLH sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan, Prof. Naya juga termasuk ke dalam jajaran Dewan Penasehat Indonesia Project on Climate Change hingga saat ini.

Proses pendirian ESQ Business School tak lepas dari andil beliau. Keinginannya itu didasari oleh persamaan visi, yaitu terbentuknya generasi muda yang berkarakter. ESQ Business School selain mengembangkan intelektualitas, juga membekali dengan kecerdasan emosional dan spiritual untuk mencetak pemimpin yang tangguh di dunia bisnis. Dengan mendirikan ESQ Business School baginya sama saja dengan membangun generasi masa depan yang berilmu, berkarakter, dan berkebangsaan. Bangsa yang besar, lanjutnya, adalah bangsa yang berilmu, berkarakter, dan berkebangsaan.

Melalui ESQ Business School, beliau ingin mencetak lulusan yang berkarakter 7 Budi Utama, yaitu jujur, disiplin, tanggung jawab, visoner, disiplin, kerjasama, adil, peduli. Tak hanya itu, ia juga menginginkan lulusan yang memiliki jiwa entrepreneurship dan tentunya kemampuan akademik yang bagus. Beliaupun menambahkan, banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa orang yang berhasil itu kecerdasan intelektualnya hanya 20 persen, sedangkan 80 persennya ada di kecerdasan emotional dan spiritual. Itulah yang ingin dibangun di ESQ Business School.

Menurutnya, bangsa Indonesia telah kehilangan ruhnya, karena kehilangan ruh akhirnya kehilangan identitas. “Kita kehilangan identitas. Bangsa yang kehilangan identitas tak akan maju. Jadi di ESQ Business School ini kita harus membangun wawasan berkebangsaan, jiwa yang kreatif berlandaskan spiritual dan kemampuan intelektualnya,” paparnya.

Karier

 

JOURNAL:

“Analysis os Strengthening Steel Distribution Channel in Domestic Automotive Industry”

Abstract:

Distribution has strategic role to spread up product from manufacturer into end-user. Automotive industry needs distribution channel which has; excellent data management, timely delivery management, excellent quality management, and competitive reducing cost. Krakatau Steel (KS) distributors has weaknesses to enter automotive market current that require tight prerequisite such as; consistency of product quality, good cooperation, relationship , continuously cost reduction, wide spread to many vendors in small quantity internal KS document, literature, text book and other analysis which are still relevant for this topic. Selecting appropriate distributor which fit to automotive requirement is must in order to strengthen market position in automotive industry. Developing own coil centre is new strategic decision that can be used as new core competence of Krakatau Steel.