Pelajari Budaya Kerja Amerika, EBS Selenggarakan Study Visit ke US Embassy

ESQ Business School, US EmbassyPemahaman lintas budaya terkadang sangat dibutuhkan dalam berbisnis. Banyak orang gagal melakukan kerjasama bisnis karena minim pemahaman lintas budaya. Sebagai contoh, orang Indonesia menganggap orang Amerika sangat individualist, padahal menurut orang Amerika individualist penting untuk efisiensi kerja. Sebaliknya, orang Amerika menganggap orang Indonesia terlalu collectivist sehingga pekerjaannya tidak efisien, padahal menurut orang Indonesia hal itu penting untuk menciptakan social harmony. Kesalahpahaman seperti ini dapat menghambat terjadinya bisnis yang cepat dan efisien.

Hal itu dikemukakan oleh Dewi Ratnasari, salah satu pembicara dalam Study Visit yang diselenggarakan antara ESQ Business School dengan IRC US Embassy Jakarta pada Kamis, 22 Desember 2016 di Gedung Sarana Jaya, US Embassy Jakarta dengan peserta mahasiswa program studi Manajemen Bisnis semester 5. Menurut Dewi, salah satu contoh lain perbandingan budaya yang menghambat bisnis adalah, bahwa orang Amerika sangat straightforward, mengucapkan langsung maksud dan tujuan baru deskripsi lengkap, sementara orang Indonesia cenderung banyak ramah tamah, sementara maksud dan tujuan disampaikan belakangan. Perbedaan-perbedaan ini yang menurut Dewi, lulusan dari Arkansas University, menghambat bisnis orang Indonesia di Amerika Serikat.

Pemahaman lintas budaya, masih menurut Dewi, sangat diperlukan untuk menjembatani kesalahpahaman tersebut. Hal ini sejatinya yang melatarbelakangi ESQ Business School menyelenggarakan Study Visit ke US Embassy. Menurut Saomi Rizqiyanto, MSi, dosen mata kuliah Manajemen Lintas Budaya ESQ Business School, maksud dari studi kunjungan ini selain memberikan pemahaman yang baru juga ingin memberikan interaksi yang berbeda kepada mahasiswa.

“Mahasiswa tidak hanya belajar dari dalam kelas dan dari text book saja, tapi harus mendapatkan experience langsung dari orang-orang kedutaan besar Amerika yang sudah berinteraksi langsung dengan orang-orang Amerika itu sendiri. Experience seperti ini terkadang melekat dalam memori mahasiswa lebih lama dibanding belajar teori dari buku” tutur Saomi.

Acara Study Visit ini selain dihadiri oleh Dewi Ratnasari juga turut hadir Muhammad Iqbal yang merupakan atase pendidikan US Embassy dan Oktavina Siregar, direktur IRC. Harapan dari kunjungan ini masih menurut Saomi, setelah dibekali pemahaman lintas budaya, mahasiswa ESQ Business School menjadi pemimpin berkarakter yang siap memimpin orang-orang dari berbagai lintas budaya.

 

ESQ Business School

 

 

TAGS:
Facebook