Membuat Produk Anak Bangsa Tidak Dipandang Sebelah Mata Lewat “Rafin’s,” Bisnis dari Seorang Mahasiswa EBS Angkatan 6

Membuktikan pada Dunia Bahwa Anak Bangsa bisa Berkarya lewat "Rafin's," Bisnis dari Seorang Mahasiswa EBS Angkatan 6

Membuat Produk Anak Bangsa Tidak Dipandang Sebelah Mata Lewat “Rafin’s,” Bisnis dari Seorang Mahasiswa EBS Angkatan 6

ESQ Business School – Sejatinya, manusia terlahir dengan segala kelebihan dan juga kekurangannya. Jangan pernah menjadikan sebuah kekurangan sebagai sebuah hambatan untuk berkarya dan jangan pernah merasa puas dengan kelebihan yang dipunya. Karena hakikat hidup setiap manusia adalah tentang proses untuk mau belajar menjadi pribadi yang lebih baik lagi ke depannya.

Berupaya untuk menjadi pribadi yang lebih baik ini, juga diaplikasikan oleh Muhammad Ravie Cahya Ansor, mahasiswa angkatan ke-6 jurusan Manajemen Bisnis di ESQ Business School (EBS) ini sudah mulai terjun ke dunia bisnis di bidang food and beverage. Dia menjual makanan ringan (snacks) berupa crispy fish skin yang diberi nama “Rafins.” Walaupun masih terbilang newbie di dunia bisnis, Ravie— sapaan dari Muhammad Ravie Cahya Ansor, tidak mau melewatkan kesempatan emas untuk terjun ke dunia bisnis di usia muda, karena baginya, dia ingin mengisi masa mudanya dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat dan membawa kepada kebaikan bagi banyak orang.

Menurut penuturannya, Ravie mendirikan bisnis ini belum lama. Bisnis ini berdiri sejak 3 bulan yang lalu, tepatnya tanggal 14 Agustus 2018. Awal mula munculnya ide produk ini ialah dari keresahan hatinya akan banyaknya peminat dari snack sejenis namun lebih memilih impor dari Singapura. Berangkat dari hal tersebut inilah dirinya membuat produk “Rafins.” Target awalnya ialah membuat produk propaganda untuk melawan produk impor tersebut. Adapun 2 hal yang paling dia tekankan disini adalah rasa nasionalisme dengan membeli produk Indonesia dan harga yang “bumi langit,” Jadi dari rasa tingginya nasionalis serta dicocokan tingkat marketnya ternyata snack ini bisa cukup booming juga. Dia ingin pula membuat produk-produk yang dihasilkan anak bangsa tidak dipandang sebelah mata.

Membuat Produk Anak Bangsa Tidak Dipandang Sebelah Mata lewat "Rafin's," Bisnis dari Seorang Mahasiswa EBS Angkatan 6

Ravie juga mengungkapkan bahwa dirinya memulai berbisnis sejak sebelum masuk di EBS tepatnya menjelang “Welcoming Week” di EBS. Lalu menurutnya, kesulitan yang paling utama yang dia temui selama berbisnis adalah dalam hal produksi, karena hal tersebut memerlukan tempat yang lumayan dan ada beberapa standar kualitas yang harus dia penuhi membuatnya sedikit kesulitan di bidang produksinya dikarenakan tempat yang dia tempati hanya kost-an dan apartemen jadi hanya berlangsung sekitar 2 minggu. Lalu dia memutuskan untuk memindahkan tempat produksi ke Lampung dan mengambil karyawan untuk produksi serta dibantu orangtua untuk quality control-nya.

Lebih lanjut, Ravie juga membagikan kiat-kiat bisnisnya kepada anak-anak muda khususnya para mahasiswa dan alumni EBS yang ingin juga menekuni dunia bisnis seperti dirinya, yaitu yang penting adalah berani untuk memulai dulu, jangan pernah bilang tidak bisa sebelum mencoba. Lalu jangan malas untuk mencoba membuat produk yang lebih bagus lagi, Ravie punya cerita tentang penundaan pengeksekusian produk, sebelumnya dia punya ide “Rafin’s” sudah selama 1 tahun yang lalu namun baru bisa terealisasi 3 bulan belakangan karena sebelumnya dia berpikir “Ah produk seperti ini pasti duitnya receh, dipake jajan dikit abis lagi, kalau cuma ini kapan jadi kaya-nya” karena sebelumnya dia selalu berpikir bisnis di bidang food and beverage jika mau besar ya harus dine in.

Maka dari itu, dirinya ingin cari terus inspirasi tentang dine in tapi selalu mentok terus dia berpikir mengapa tidak dieksekusi saja dulu, coba-coba “Rafin’s”-nya, “Sebelum dieksekusi pun banyak mikir seperti nanti design-nya bagus atau enggak ya? nanti marketing-in nya sulit atau enggak ya? nanti produksi bagi waktunya gimana ya? dan lain sebagainya yang membuat penundaan, tapi akhirnya saya memutuskan untuk memulai dengan modal awal sebesar 500 ribu rupiah dan  Alhamdulillah omzet sekarang bisa kurang lebih di atas 20 juta sebulan. Intinya mulai aja dulu lalu buat yang lebih baik dan perbanyak amal dan selalu sambung silaturrahim.” Ujarnya. Saat ini, “Rafin’s” juga dijual di Cafetaria Lantai 18, Kampus ESQ Business School.

Dan sebelum menutup perbincangan, Ravie juga memberikan 5 pesan inspiratif bagi para alumni dan mahasiswa EBS, yakni:

  1. Jangan lupa hak Allah didahulukan sebelum hak manusia
  2. Jadikan Allah sebagai tujuan yang utama
  3. Sambung tali silaturrahim
  4. Selalu inovasi, buat sesuatu yang baru, jangan malu untuk mem-branding diri dengan hal yang positif dan inspiratif
  5. Jangan malas untuk belajar hal-hal baru, invest-kan diri kalian pada ilmu yang bermanfaat dan perbanyak kenalan di bidang bisnis yang sejenis maupun berbeda dan yang paling utama juga adalah selalu minta doa dari orangtua kita.

Semoga ke depannya semakin banyak mahasiswa ataupun alumni ESQ Business School yang menginspirasi kaum muda dengan mendirikan sebuah bisnis yang bermanfaat untuk masyarakat. Hal ini, selaras dengan visi mulia dari ESQ Business School ke depannya untuk menjadi sekolah bisnis terbaik di Indonesia.

Rachmah Dewi

Author Rachmah Dewi

More posts by Rachmah Dewi