Membangun generasi berilmu, berkarakter dan berkebangsaan

Santai, ramah, dan bersahaja. Itulah kesan pertama saat bertemu dengan Prof. Ir. Surna Tjahja Djajadiningrat, M.Sc., Ph.D. Guru Besar di Bidang Manajemen Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini merupakan orang yang berandil besar dalam pendirian ESQ Business School.

Pada tahun 1962, profesor yang akrab disapa Prof. Naya ini merupakan mahasiswa Fakultas Teknik Mesin di ITB. Seiring bergulirnya waktu, ia pun pindah ke Teknik Industri. “Pada tahun 1971 ada yang namanya Teknik Industri, saya pindah kesitu,” tuturnya.

Namun siapa sangka, Prof. Naya termasuk mahasiswa ITB yang lama menyelesaikan kuliahnya. Di masa mudanya, Naya dikenal sebagai aktivis kampus. Berbagai macam organisasi pun pernah digelutinya, termasuk menjadi Sekjen Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) ITB.

 

Meski dibesarkan di lingkungan yang sangat terpelajar, karena saking sibuknya berorganisasi di kampus, kuliahnya jadi terbengkalai. “Saya pada waktu itu lebih banyak berorganisasi daripada kuliah. Pada waktu itu saya jadi aktivis, jadi sekolah S1 saya lama,” ujar pria kelahiran Jakarta, 1 September 1944 ini.

Memasuki tahun 1967, Naya ditinggal oleh sang ayah. “Ayah saya meninggal, di situ saya sadar betul bahwa saya gak bisa gini terus,” ungkapnya.

Surnatjahja

Ia juga teringat dengan pesan kakeknya yang pernah menjabat sebagai Bupati Serang, yang kala itu mengatakan, jika ingin mengalahkan Belanda, harus jadi orang pintar. Pesan kakeknya memotivasi Naya untuk segera menyelesaikan kuliahnya di ITB. Dengan tekad dan kegigihan, alhasil Naya mampu menyelesaikan pendidikannya, dan memperoleh gelar sarjana Teknik Industri pada tahun 1972.

Almarhum ibunya yang kala itu sebagai seorang dosen merupakan sosok orang yang dicintai, sekaligus menginspirasinya. Dengan gelar sarjana mudanya, Naya mengikuti jejak ibunya dengan menjadi dosen. “Setelah lulus saya memilih jadi dosen, karena ibu saya juga dulunya dosen,” tuturnya.

Setelah beberapa lama mengajar sebagai dosen, terlintas keinginan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Ia teringat ucapan ibunya yang kala itu menyatakan, “Kalau kamu mau berkarir di perguruan tinggi, sekolah kamu harus setinggi-tingginya dan kamu harus jadi profesor.”

Ia pun berusaha mendapatkan beasiswa untuk mengambil program pendidikan S2. Setelah berupaya, akhirnya beasiswa untuk kuliah S2 di University of Hawaii Amerika Serikat berhasil diraihnya. Sebuah kesempatan langka yang tak mungkin disia-siakannya. Dengan mengambil bidang Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, ia meyakini bahwa kelak ilmunya akan bermanfaat bagi masyarakat.

“Kenapa saya ambil bidang itu? Karena Indonesia adalah negara yang pembangunannya tergantung pada sumber daya alam. Nantinya saya akan banyak memberi sumbangan terhadap pembangunan berdasarkan sumber daya alam dan lingkungan,” urainya.

Selama mengambil program S2, indeks prestasi kumulatif (IPK)-nya terbilang memuaskan. “Saya beruntung karena waktu saya ambil Magister (S2), IPK saya bagus. Di Amerika itu kalau IPK-nya di atas 3,5 bisa loncat ke program Doktor (S3),” terangnya.

Keputusan Naya yang mengambil program Doktor juga mendapat dukungan moril dari sahabatnya, yaitu Prof. Dr. Emil Salim yang kala itu menjabat Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Kabinet Pembangunan III (1978-1983). “Bung, bidang studinya bagus, itu adalah ilmu masa depan,” ungkap Naya sembari menirukan ucapan Emil.

Alhasil pada tahun 1980, Naya berhasil menuntaskan pendidikan S2-nya di University of Hawaii. Dua tahun setelahnya tepatnya tahun 1982, ia memperoleh gelar Doktor di bidang yang sama, yaitu Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

“Jadi Magister saya di bidang Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, dan Doktor saya juga begitu,” imbuhnya.

Hubungan baiknya dengan Emil Salim, membuatnya masuk ke dunia pemerintahan. “Tahun 1988, saya diangkat sama Pak Emil jadi asistennya. Saya umurnya 43 waktu itu. Jadi sejak itu sampai tahun 2003, saya berkarir di pemerintahan,” katanya.

Selama bertahun-tahun berkarir di pemerintahan, Naya berkeinginan untuk bisa kembali ke perguruan tinggi. Keinginannya untuk terus mengajar tak lekang oleh waktu. “Memang cita-cita saya bisa kembali ke perguruan tinggi,” ujarnya.

Seiring jalannya waktu, kampus yang telah membesarkannya berkeinginan untuk mendirikan Fakultas Manajemen. Naya pun terlibat di dalam pendirian fakultas baru ini. Perjuangan untuk mendirikan fakultas ini ternyata banyak memunculkan pro dan kontra. Butuh perjuangan dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Pada tahun 2003, Kusmayanto Kadiman yang menjabat sebagai Rektor ITB mendukung pendirian Fakultas Manajemen. Setelah berdiskusi dan perdebatan yang cukup alot, akhirnya diputuskanlah Sekolah Bisnis Manajemen (SBM) ITB.

Sebagai pencetus berdirinya SBM, akhirnya Naya didaulat untuk menjadi Dekan periode 2004-2009. “Kenapa saya jadi Dekan pertama? Karena seniornya saya. Waktu itu semua orang bilang Prof. Naya yang jadi Dekan. Sampai kemudian kita bikin sesuatu yang berbeda, dan karakter yang menjadi intinya,” urainya.

Kini SBM yang didirikannya menjadi salah satu lembaga akademik di lingkungan ITB yang berfungsi menjalankan misi Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, riset dan pengabdian masyarakat. Sejalan dengan visinya, SBM mencoba mengembangkan diri menjadi unggul dalam riset dan pendidikan di bidang manajemen.

 

Keberhasilan SBM ITB menarik perhatian DR. (H.C) Ary Ginanjar Agustian. Pendiri ESQ Leadership Center ini kemudian mendatangi Prof. Naya untuk mengutarakan keinginannya mendirikan sekolah tinggi. Dengan segudang ilmu yang dimilikinya, akhirnya Prof. Naya bersedia membantu mendirikan ESQ Business School.

“Kalau kita mau membangun apa pun kita harus lihat anginnya. Kalau pendidikan anginnya itu karakter seperti 7 Budi Utama dan entrepreneurship. Yang kedua harus ada dream team yang kuat, fanatik dan disiplin,” urainya.

Keinginannya itu didasari oleh persamaan visi, yaitu terbentuknya generasi muda yang berkarakter. Baginya, membantu mendirikan ESQ Business School sama saja dengan membangun generasi masa depan yang berilmu, berkarakter dan berkebangsaan. Bangsa yang besar, menurutnya, adalah bangsa yang berilmu, berkarakter dan berkebangsaan.

“Ini yang menurut saya hilang, jadi harus dibangun kembali. Paling tidak saya ikut andil membangun pondasinya,” ungkapnya.

Proses pendirian ESQ Business School memerlukan perjuangan yang tak kenal lelah. Dibantu oleh Prof. Naya, kala itu Ary Ginanjar beserta jajarannya yang merupakan calon pengurus ESQ Business School telah melakukan proses perizinan ke Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi).

Setelah melalui proses yang cukup alot, akhirnya ESQ Business School berhasil mengantongi izin. Dan kini Prof. Naya dipercaya menjadi Founder & Chairman ESQ Business School.

Ayah dari seorang putri ini mengaku bahwa yang paling mendorong keterlibatannya di ESQ adalah istri tercintanya, yang baru berpulang belum lama yaitu 19 Maret 2013. Menurutnya sang istri yang merupakan Alumni ESQ ini sangat senang dengan kedekatan dirinya dengan Ary Ginanjar.

“Suatu hari, putri saya menunjukkan bahwa ternyata di dalam Al Quran almarhumah istri saya ada klipping yang memuat foto saya dengan Pak Ary. Saya kaget, sedemikian senangnya saya bergabung di EBS, sampai-sampai potongan korannya pun disimpannya di dalam Al Qurannya,” ujarnya.

Melalui ESQ Business School, Naya ingin mencetak lulusan yang berkarakter 7 Budi Utama, yaitu jujur, disiplin, tanggung jawab, visoner, disiplin, kerjasama, adil, peduli. Tak hanya itu, ia juga menginginkan lulusan yang memiliki jiwa entrepreneurship dan tentunya kemampuan akademik yang bagus.

Naya menambahkan, banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa orang yang berhasil itu kecerdasan intelektualnya hanya 20 persen, sedangkan 80 persennya ada di kecerdasan emotional dan spiritual. Itulah yang ingin dibangun di ESQ Business School.

“Saya punya mimpi melalui kampus ini saya bisa membangun generasi yang jauh berkualitas, baik dari spiritual maupun intelektualnya,” katanya.

Menurutnya, bangsa Indonesia telah kehilangan ruhnya, karena kehilangan ruh akhirnya kehilangan identitas. “Kita kehilangan identitas. Bangsa yang kehilangan identitas tak akan maju. Jadi di ESQ Business School ini kita harus membangun wawasan berkebangsaan, jiwa yang kreatif berlandaskan spiritual dan kemampuan intelektualnya,” paparnya.

Di bawah kepemimpinannya, ESQ Business School kini membuka dua program studi, yaitu S1 Manajemen dan S1 Sistem Informasi. Kampus yang akan memulai perkuliahan pada 2 September 2013 ini bertempat di jalan TB. Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan. (ts

Facebook