Green Apraisal untuk Lahan Indonesia

Green Apraisal untuk Lahan Indonesia

ESQ Business School – Dalam menilai sebuah lahan kosong maupun bangunan, nilai keekonomian sebuah lahan dihitung dari pendekatan pemanfaatan lahan  dan lokasinya. Dalam Apraisal Technique di dunia property, nilai lahan bisa diukur dengan metode perbandingan lahan yang sejenis dan dekat dengan objek yang dinilai. Cara lain adalah dengan pendekatan income approach atas potensi proyeksi cashflow yang didapat dari pendapatan yang bisa didapat dari lahan tersebut, misalnya untuk lahan kosong yang akan dinilai rencananya dibuat untuk hotel. Maka potensi revenue hotel tersebut dimasa yang akan datang dihitung untk menentukan mahal tidaknya lahan tersebut.

 

Lahan yang berada di lokasi yang strategis dan berkembang akan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Ada istilah di dunia property untuk menentukan berharga dan mahalnya tidaknya sebuah lahan, hal pertama ditentukan oleh lokasi, hal kedua oleh lokasi dan nomer tiga juga lokasi dan seterusnya. Lokasi disini adalah lokasi yang strategis seperti dekat dengan jalan raya, akses pusat ekonomi, sekolah dan lain-lain.

 

Sekarang kalau ada sebuah lahan mempunyai mata air yang dapat memberikan minum bagi banyak orang, tanahnya subur menghasilkan buah-buahan yang segar dan menjaga paru-paru kota, apakah mampu dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan  sebuah tanah dengan lokasi yang dianggap startegis secara ekonomi misalnya posisi persimpangan (hook) yang ramai dan dikunjungi orang. Adakah ilmu penilai untuk hal tersebut?  Kalau belum ada mungkin kita perlu membuat sebuah matematika air dan/atau matematika pohon sebagai alternatif yang bisa  dieksplorasi oleh para ilmuwan yang fokus terhadap ekonomi lingkungan. Bagaimana bumi yang kita injak dan menopang ini, bisa menjadi tempat yang telah Allah SWT amanatkan kita  untuk kita jaga dan dipelihara dengan bijak.

 

Hidup di Indonesia yang masih mempunyai sumber daya sepatutnya  lebih disyukuri. Singapura negeri tetangga kita sampai 2012 masih mengimpor 40% kebutuhan airnya dari Malaysia. Untuk mengurangi ketergantungan itu, Singapura melalui NEWater project mengeluarkan hampir 140 juta Dollar Singapore untuk penelitian air dan melakukan investasi dengan 200 juta dollar Singapura atau setara Rp 2 triliun digelontorkan untuk membangun pabrik desalinasi air laut di Tuas, kawasan barat daya Singapura  (Kompas, 2011).

 

Memelihara, berhemat air dengan sebaik-baiknya sesungguhnya memastikan persiapan untuk masa depan. Memelihara kesadaran yang harus hidup di setiap orang bahwa manusia adalah rahmat bagi seluruh alam.  Jika kita mampu mempunyai mindset itu,bangsa ini akan betul-betul memperlakukan air lebih berharga dari emas dan tidak ada lagi  istilah haji mandi atau haji ikan bagi jamaah umroh dan haji dari Indonesia.

 

Penulis: Bapak Dadan Ramdhan – Wakil Ketua II Bidang Sumber Daya dan Operasional ESQ Business School

Dapatkan Tiket Seminar Eksklusif Bulan November "GREAT PARENTING"

"Mendidik Karakter dengan Karakter" di ESQ Business School.

Free investasi bagi Ayah/Bunda yang memiliki anak kelas 12 SMA/SMK. Rabu, 22 November 2017 (09 - 12)